Thursday, January 28, 2016

lost again

ya lagi lagi terantuk lagi, semua yang terkekang didalam perihal-perihal yang tak terbantah sepi-sepi dan kalimat-kalimat perantauan, berkeliling mengejar angin, mungkin, ketika tukang ojek yang bersedih didepan warung bandrek itu mendapat bayaran terakhirnya malam ini, dan mungkin juga kedipan-kedipan dan peralihan-peralihan yang tak kita sadari, tenda-tenda dalam malam yang menyala, juga kunang-kunang yang terbang, jatuh, dan mati.

dalam kematiannya sang kunang-kunang berkelit manja, menyapu semua segi-segi peraduan dan perih-perih yang mendelik perlahan, sehingga tak mati semua jenis dan semua awan yang bergerak pelan, cepat, beradu, berputar, jungkir balik miring sedikit.

dan didalam pagar batas ini, lompatan-lompatan dan teriakan-teriakan. aspal yang memudar dan sepi yang menenggelamkan. tapi ya tapi tinggal tapi, usai seudah semua yang semu, kini tinggal bangkai terasi dan selingan-selingan pedih dari pengumuman-pengumuman, dan tersisa hanya hanya.

namun lalu lelah hanya.

segi.